Oleh: Ronald E.M. Goodman
Sumber: Molossian Naval Academy

Strategi dan taktik militer sangat esensial dalam peperangan. Secara luas, strategi adalah perencanaan, koordinasi, dan pengarahan umum operasi-operasi militer untuk memenuhi tujuan politik dan militer secara keseluruhan. Taktik mengimplementasikan strategi melalui keputusan jangka pendek atas pergerakan pasukan dan penggunaan senjata di medan tempur. Teoris militer besar Carl von Clausewitz mengemukakannya dengan cara lain: “Taktik adalah seni menggunakan pasukan dalam pertempuran, strategi adalah seni menggunakan pertempuran untuk memenangkan peperangan.” Strategi dan taktik dipandang secara berbeda dalam hampir setiap era sejarah. Perubahan makna kedua istilah ini pada dasarnya adalah perubahan cakupan, seiring berubahnya sifat perang dan masyarakat serta teknologi. Strategi, misalnya, secara harfiah berarti “seni umum” (dari bahasa Yunani strategos) dan mulanya menandakan perencanaan kampanye militer murni. Jadi sampai abad 17 dan 18 strategi mencakup soal-soal seperti benteng pertahanan, manuver, dan pasokan. Namun pada abad 19 dan 20, dengan naiknya ideologi-ideologi massa, banyaknya tentara wamil, aliansi global, dan perubahan teknologi yang pesat, strategi militer jadi sulit dibedakan dari kebijakan nasional atau “grand strategy”, yakni perencanaan dan pemanfaatan seluruh sumberdaya masyarakat—militer, teknologi, ekonomi, dan politik. Perubahan cakupan dan makna taktik sebagian besar diakibatkan oleh perubahan teknologi. Pada kenyataannya taktik selalu sulit—dan semakin sulit—untuk dibedakan dari strategi sebab keduanya saling bergantung. (Bahkan, pada abad 20, taktik diistilahkan sebagai strategi operasional.) Strategi dibatasi oleh taktik apa saja yang memungkinkan; ditilik dari ukuran, pelatihan, dan moril pasukan, tipe dan jumlah senjata yang tersedia, daerah, cuaca, serta kualitas dan lokasi pasukan musuh, taktik yang dipakai tergantung pada pertimbangan strategis.

Prinsip Strategis dan Taktis Peperangan

Para komandan dan teoris militer sepanjang sejarah telah merumuskan apa yang dianggap prinsip-prinsip strategis dan taktis perang paling penting. Naopleon I, contohnya, memiliki 115 prinsip. Jenderal konfederasi Nathan Bedford Forrest hanya punya satu: “Datang terawal dengan pasukan terbanyak.” Sebagian dari prinsip-prinsip yang lazim dikutip adalah tujuan, serangan, kejutan, keamanan, kesatuan komando, ekonomi angkatan, massa, dan manuver. Kebanyakan saling bergantung.

Angkatan militer, baik besar ataupun kecil, harus punya tujuan yang jelas terlepas dari adanya potensi penyimpangan. Namun, hanya operasi ofensif—menangkap dan memanfaatkan inisiatif—yang akan memungkinkan pemilihan tujuan; serangan juga banyak meningkatkan kemungkinan kejutan (senyap dan mengecoh) dan keamanan (perlindungan dari kejutan atau hilangnya potensi mengejutkan musuh). Kesatuan komando, atau kerjasama, sangat esensial dalam mengejar tujuan, kemampuan menggunakan seluruh angkatan secara efektif (ekonomi angkatan), dan pemusatan kekuatan superior pada titik kritis (massa). Manuver terdiri dari beraneka cara pengerahan dan penggerakan pasukan untuk menghasilkan serangan, massa, dan kejutan. Contoh terkenal yang mengilustrasikan sebagian besar dari prinsip-prinsip ini terjadi di masa Perang Dunia II ketika pasukan Sekutu akhirnya menyepakati tujuan yakni mengalahkan Jerman terlebih dahulu dengan serangan langsung terhadap benua Eropa. Di bawah komando gabungan yang dikepalai Jend. Dwight D. Eisenhower, mereka menyusun pasukan di Inggris secara efektif, mengecoh Jerman berkaitan dengan titik invasi, mengumpulkan informasi intelijen tentang penempatan pasukan Jerman, dan melaksanakan manuver luas yang disebut Operasi Overlord.

Namun perhatian kaku dan membabi-buta terhadap suatu prinsip perang bisa mencelakakan. Menghadapi dua pasukan AL Jepang, keputusan Laks. William Halsey di Teluk Leyte untuk tidak membagi armada (prinsip massa) mengakibatkan beradunya seluruh pasukan besar AL Amerika dengan satu armada umpan Jepang. Pembagian armada (manuver) semestinya membuat Halsey lebih unggul dari kedua pasukan Jepang.

Manuver Strategis dan Taktis

Klasifikasi tipe-tipe manuver militer aktual dan variasinya sudah lama menjadi bagian dari ilmu militer. Teknologi dan senjata baru belum mengubah drastis sebagian tipe manuver ofensif klasik: penetrasi, penyelubungan (envelopment), manuver defensif-ofensif, dan gerakan berputar.

Penetrasi—salah satu manuver tertua—adalah serangan utama yang berupaya mengoyak garis musuh selagi serangan sekunder terhadap garis musuh mencegah lepasnya pasukan cadangan musuh. Manuver favorit duke Marlborough (awal abad 18), ini juga dipakai oleh Jend. Bernard Montgomery di El Alamein (1942).

Penyelubungan adalah manuver di mana serangan sekunder berupaya menguasai bagian tengah musuh selagi salah satu sayap (penyelubungan tunggal) atau dua sayap (penyelubungan ganda) musuh sedang diserang atau disalip terdesak ke bagian belakang musuh guna mengancam komunikasinya dan garis mundur. Ini memaksa musuh bertempur ke beberapa arah dan memungkinkan posisinya dihancurkan. Variasi baru mencakup penyelubungan vertikal (Pasukan Udara atau pasukan bergerak udara) dan penyelubungan amfibi. Beberapa penyelubungan tunggal yang terkenal dilakukan oleh Alexander Agung di Arbela (atau Gaugamela, 331 SM), Robert E. Lee di Chancellorsville (1863), dan Erwin Romme di Gazala (1942, menghasilkan terebutnya Tobruk), penyelubungan ganda yang terkenal mencakup penyelubungan Hannibal dalam Pertempuran Cannae (216 SM), Pertempuran Cowpens dalam Perang Revolusi Amerika (1781), dan pemusnahan Tentara Jerman ke-7 di Kantong Falaise (1944).

Manuver defensif-ofensif mencakup serangan dari posisi defensif kuat setelah musuh yang menyerang dilemahkan kekuatannya, seperti dalam dua pertempuran Perang Seratus Tahun, Crecy (1346) dan Agincourt (1415), atau penarikan pura-pura yang berupaya menggoda musuh keluar dari posisinya sebagaimana dilakukan oleh William Sang Penakluk di Pertempuran Hastings (1066) dan Napolon di Pertempuran Austerlitz (1805).

Manuver berputar adalah pendekatan tak langsung yang berusaha menikungi apitan musuh untuk mengancam garis pasokan dan komunikasi musuh sehingga mereka terpaksa meninggalkan posisi kuat atau menjadikan mereka terisolir dan terkepung. Napoleon adalah maestro gerakan berputar, menerapkannya berkali-kali antara 1796 sampai 1812. Robert E. Lee menggunakan manuver ini di Pertempuran Bull Run Kedua (1862), serbuan Jerman ke pantai Prancis tahun 1940 adalah contoh lain.

Perkembangan Strategi dan Taktik Secara Historis dan Teoritis

Akar strategi dan taktik secara historis berpangkal dari peperangan manusia dan perkembangan pemerintah dan kekaisaran skala besar. Formasi perisai infantri tumpang-tindih taktis yang rapat, disebut phalanx, eksis dalam bentuk awal di Sumeria kuno (sekitar 3000 SM). Perkembangan strategi dan taktik sejajar dengan pertumbuhan, persebaran, dan benturan peradaban-peradaban; penemuan dan perbaikan teknologi; dan evolusi kekuasaan, ideologi, dan nasionalisme negara modern.

Strategi dan Taktik Terdahulu

Basin Mediterania merupakan tempat lahirnya strategi dan taktik militer modern. Di bawah para pemimpin seperti Phillip II (382-336 SM) dan Alexander Agung (356-323 SM) dari Makedonia, dan Hannibal (247-183 SM) dari Carthage, langkah-langkah besar pertama dalam ilmu militer diambil. Phillip menggabungkan infantri, kavaleri, dan artileri primitif menjadi pasukan tempur terlatih, terorganisir, dan dapat bermanuver, disokong oleh para insinyur dan sistem persinyalan yang belum sempurna. Puteranya, Alexander, menjadi ahli strategi dan taktik ulung yang konsern pada perencanaan, penjagaan garis komunikasi dan pasokan agar tetap terbuka, keamanan, pengejaran musuh tanpa belas kasih, dan penerapan kejutan. Hannibal adalah ahli taktik yang hebat. Kemenangan-kemenangan destruktifnya mengajari Romawi bahwa taktik serangan fleksibel legiun mereka perlu disempurnakan dengan kesatuan komando dan perbaikan kavaleri. Romawi akhirnya mengganti prajurit rakyat dengan tentara profesional bergaji yang pelatihan, peralatan, kecakapan bertahan, pembangunan jalan, dan perang pengepungannya menjadi legenda. Para kaisar Bizantium mempelajari strategi dan taktik Romawi dan menulis sebagian esai terawal tentang subjek ini.

Abad Pertengahan merupakan masa kemunduran studi dan penerapan strategi—kecuali penakluk agung asal Mongol, Gengis Khan. Taktik abad pertengahan diawali dengan penekanan pada pertahanan defensif, keahlian mengepung, dan kavaleri baju baja. Namun, pengenalan perkembangan baru semisal busur silang, busur panjang, tombak-kapak, tembiang, dan terutama serbuk mesiu mulai merevolusi cara berperang.

Kemunculan Perang Modern

Gustav II Adolf, raja Swedia (berkuasa 1611-1632), dijuluki sebagai bapak taktik modern lantaran memperkenalkan kembali manuver ke dalam ilmu militer. Tentara tetap nasionalnya yang disiplin—berbeda dari serdadu bayaran—diorganisir menjadi satuan-satuan kecil bergerak yang dipersenjatai daya tembak unggul dan dapat bermanuver, dan dilengkapi dragon berkuda (hasil karyanya) yang dipersenjatai karabin dan mandau. Frederick II (yang Agung) dari Prussia (berkuasa 1740-1786), maestro inisiatif dan massa, melakukan perang di zaman peperangan terbatas—tentara yang sedikit dan mahal, jalan dan sistem pasokan yang tak memadai. Dalam Perang Tujuh Tahun (1756-1763), Frederick menghadapi koalisi yang berbagai pasukannya hampir mengepung Prussia. Memakai strategi garis interior, Frederick, didukung tentara berdisiplin tinggi dan artileri kuda (hasil karyanya), cepat bermanuver, menyusun pasukan unggul di suatu titik menentukan sepanjang garis pengepungan, dan, dengan tembakan howitzer terkumpul, memukul keras sayap musuh sebelum bergerak ke titik berikutnya.

Namun, abad peperangan modern lahir bersama Napoleon I. Revolusi Prancis menghasilkan banyak tentara patriot yang diorganisir ke dalam formasi-formasi divisi longgar. Napoleon secara teliti merencanakan kampanyenya dan secara cepat mendorong pasukannya ke medan tempur terpilih dengan baris paksa. Peperangannya diawali dengan pertempuran kecil dan tembakan meriam gencar, diikuti konsentrasi pasukan dalam serangan bayonet kejut terhadap sayap musuh dengan gerakan berputar dan menyelubungi yang dirancang untuk menghancurkan total pasukan musuh. Gara-gara kompleksitas perang yang semakin tinggi, staf umum mulai muncul di bawah Napoleon, tapi masih mentah.

Abad 19: Teori dan Perubahan Teknologi

Strategi dan taktik Napoleonik dipelajari oleh dua teoris perang hebat terdahulu, jenderal Prussia Carl von Clausewitz (1780-1813) dan jenderal Prancis Antoine Jomini (1779-1860). On War (1832-1834, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1908) karya Clausewitz menekankan kaitan erat antara perang dan kebijakan nasional dengan pentingnya prinsip-prinsip massa, ekonomi angkatan, dan penghancuran pasukan musuh. Jomini, di sisi lain, menekankan pendudukan teritori musuh melalui manuver geometris yang terencana, cepat, dan akurat. Sementara teori-teori Jomini berpengaruh di Prancis dan Amerika Utara, ajaran Clausewitz terutama berpengaruh terhadap dua ahli strategi militer agung Prussia abad 19, Helmuth Karl Bernhard Moltke (arsitek kemenangan dalam perang Prancis-Prussia tahun 1870) dan Alfred von Schlieffen (pembuat rencana Schlieffen yakni pertahanan terhadap Rusia dan penyelubungan oleh Prancis), yang diterapkan oleh Jerman dalam versi modifikasi di awal Perang Dunia I.

Abad 19 adalah era perubahan teknologi luas yang mengubah lingkup taktik dan strategi, perubahan yang terlihat dalam perang total pertama, Perang Sipil AS. Jalan-jalan kereta dan kapal uap meningkatkan volume, jangkauan, dan kecepatan mobilisasi serta wajib militer. Dukungan konsisten industri perang menjadi krusial. Pertumbuhan jarak tembak dan akurasi daya tembak menciptakan permasalahan taktik baru: artileri harus ditempatkan lebih jauh di belakang garis, serbuan terkumpul jadi tak efektif jika bukan mencelakakan, kavaleri jadi terbatas pada pengintaian dan pertempuran kecil, dan pasukan mulai bertempur dari parit-parit dan memakai granat dan ranjau darat. Komunikasi telegram menghubungkan kancah-kancah perang yang meluas dan memungkinkan strategi dan taktik skala besar. Di masa Perang Sipil AS, strategi skala besar kubu Utara (blokade, pemecah-belahan Konfederasi, penghancuran tentara dan pasokan Konfederat) yang ditopang industri dan tenaga manusia unggul menjadi faktor kunci kemenangannya. Perkembangan senapan mesin di akhir abad 19 sangat berpengaruh dalam Perang Dunia I.

Perang Dunia: Taktik Parit Hingga Strategi Nuklir

Perang Dunia I diawali dengan mobilisasi luas, cepat, dan nasional serta manuver-manuver ofensif klasik, tapi setelah upaya timbal-balik dalam penyelubungan di Pertempuran Marne dan sesudahnya, perang parit stasioner terjadi di seantero front pertempuran. Dua perkembangan teknologi penting dalam perang menghasilkan perdebatan strategi dan taktik antara 1920-an sampai 1930-an. Penggunakan kekuatan udara dianjurkan oleh para teoris semisal Giulio Douhet (1869-1930), Billy Mitchell, Henry (“Hap”) Arnold, dan Hugh Trenchard (1873-1956). Mereka bersikeras kekuatan udara saja dapat memenangkan perang, bukan cuma dengan menyerang pasukan musuh tapi melalui pengeboman strategis—serangan masif terhadap kota-kota, industri, dan jalur komunikasi dan pasokan yang menjadi ciri strategi sekutu semasa Perang Dunia II. Perkembangan lain Perang Dunia I adalah kendaraan bermotor lapis baja seperti tank. Pemakaian tank sebagai kavaleri baru abad modern dianjurkan oleh B.H. Liddell Hart (1895-1970), Charles de Gaulle (1890-1970), dan J.F.C. Fuller (1878-1966) di periode antarperang. Jerman adalah pihak pertama yang secara efektif menggunakan kombinasi serangan taktis kekuatan udara dan tank di medan perang kilat, di bawah komandan seperti Heinz Guderian dan Erwin Rommel, yang menaklukkan sebagian besar Eropa pada Perang Dunia II.

Walaupun berbagai macam taktik digunakan di seluruh penjuru dunia, barangkali kemajuan taktik utama dalam Perang Dunia II adalah peperangan amfibi. Namun signifikansi Perang Dunia II terdapat pada penerapan pertama strategi global oleh koalisi masif yang dicurahkan untuk ofensif. Perkembangan senjata nuklir, yang berlanjut setelah perang, memperkenalkan ilmu baru berupa strategi dan taktik nuklir. Akan tetapi, luasnya dampak kerusakan dari senjata ini mengandung arti bahwa peperangan dengan sasaran strategis terbatas, yakni memakai senjata konvensional tapi terus-menerus disempurnakan dan taktik konvensional (dan terkadang non-konvensional), akan menonjol pada tahun-tahun setelah Perang Dunia II.

Daftar Pustaka:
  • Andre Beaufre, An Introduction to Strategy (1965)
  • Bernard Brodie, Strategy in the Missile Age (1959)
  • D.G. Chandler, The Campaigns of Napoleon (1966)
  • R.E. Dupuy dan T.N. Dupuy, The Encyclopedia of Military History (1977)
  • Edward M Earle dkk., editor, Makers of Modern Strategy (1973)
  • John Ellis, The Social History of the Machine Gun (1975)
  • J.F.C. Fuller, A Military History of the Western World, 3 vol. (1954-56)
  • Herman Kahn, On Thermonuclear War (1969)
  • Henry Kissinger, Nuclear Weapons and Foreign Policy (1959)
  • B.H. Liddell Hart, Strategy: The Indirect Approach (1954; edisi revisi 1967)

Ilustrasi: US nuclear weapon test at Bikini Atoll in 1946
(US Department of Defense)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s