Oleh: Leonard W. Dooh
Sumber: JSTOR

The Public Opinion Quarterly, Vol. 14 No. 3, Musim Gugur 1950, hal. 419-442, diterbitkan oleh Oxford University Press atas nama American Association for Public Opinion Research

Selama hampir dua belas tahun Menteri Propaganda Jerman, Goebbels, diakui sebagai ahli di bidangnya oleh mereka yang memerangi dan mereka yang menyambut negara Nazi. Artikel ini, berdasarkan bagian-bagian diari Goebbels yang diterbitkan dan tidak diterbitkan, merangkum prinsip-prinsip utama propaganda yang diikutinya. Pengarang, yang mengabdi sebagai Koordinator Kebijakan Kantor Informasi Perang Cabang Luar Negeri semasa Perang Dunia II, adalah Profesor Psikologi di Universitas Yale.

Di antara dokumen Nazi yang diselamatkan oleh otoritas Amerika di Berlin pada 1945 adalah sebuah manuskrip hampir 6.800 halaman yang disebut didiktekan oleh Menteri Propaganda Goebbels sebagai diari, yang mencakup periode 21 Januari 1942 s/d 9 Desember 1943 dengan banyak kekosongan. Materi ini diketik tiga spasi dalam aksara Jerman-Gotik besar dan dengan marjin lebar di atas kertas tebal ber-watermark. Alhasil rata-rata halaman memuat kurang dari 100 kata. Sekitar 30% dari manuskrip ini—bagian paling menarik dan secara umum paling penting—telah diterjemahkan secara akurat dan idiomatik oleh Louis P. Lochner.[1] Analisa dalam artikel ini didasarkan pada pemeriksaan cermat terhadap keseluruhan dokumen yang kini berada di Hoover Institute and Library on War, Peace, and Revolution di Universitas Stanford.[2]

Materi ini tak diragukan lagi didiktekan oleh Goebbels, tapi ini bukan keterangan intim dan riil mengenai hidupnya sebagai individu atau propagandis. Dia terlalu licik untuk mencurahkan isi hatinya kepada sekretaris. Apa yang dia katakan pasti termotivasi oleh [keberadaan] pembaca umum yang dianggap akan membaca kata-katanya; atau—sebagaimana Speier uraikan[3]—dokumen ini mungkin mewakili bagian-bagian diari asli yang diseleksi olehnya atau orang lain untuk tujuan tertentu. Sebuah bab bertajuk “Yesterday—Military Situation”, yang mengawali entri harian dan yang diabaikan sama sekali oleh Lochner, sudah pasti bukan ditulis oleh Goebbels. Tulisan tersebut merupakan yang paling objektif. Seringkali peristiwa yang disinggung di dalamnya diberitakan lagi dan diulas di bagian-bagian lain dalam entri hari yang sama; dan kadang halaman kosong tampil di bawah judul tersebut disertai catatan “disisipkan kemudian”. Dalam manuskrip yang kita pegang terdapat sedikit rincian pribadi. Malah kelihatannya Goebbels ingin mempertontonkan loyalitas teguh pada Hitler; membeberkan ketidaklayakan para staf militer Jerman; menyombongkan prestasinya sendiri, keterhormatannya, dan pengabdiannya pada kepentingan Nazi; dan merekam kritik terhadap rival sesama anggota Nazi seperti Goering dan Rosenberg.

Karakter dokumennya sangat relevan dengan pemeriksaan kepribadian Goebbels atau sejarah Nazidom, tapi topik-topik tersebut tidak dibahas di sini. Perhatian hanya difokuskan pada prinsip-prinsip yang tampak mendasari rencana propaganda dan keputusan yang tergambar di dalam manuskrip. Inspeksi mendadak mengindikasikan tapi tidak membuktikan bahwa kata-kata dalam diari betul-betul sesuai dengan kegiatan mesin propaganda Goebbels. Satu contoh khas kesesuaian ini sudah mencukupi. Entri diari untuk tanggal 11 November 1943 memuat tinjauan ini: “Tak ada lagi pembicaraan di pers Inggris tentang kemungkinan keruntuhan moral Reich. Sebaliknya, kita diatributi keperkasaan militer jauh lebih hebat daripada yang kita nikmati saat ini…” Pada hari yang sama, Berliner Illustrierte Nachtausgabe memuat editorial yang menegaskan bahwa “ilusi kegirangan” Inggris perihal keruntuhan Jerman “tiba-tiba berubah menjadi pesimisme mendalam; harapan terkuat musuh telah hancur”. Dua hari kemudian tajuk artikel utama dalam Voelkischer Beobachter adalah “War of Nerves Departs”. Pada 13 November diari menyebut Inggris “sedang berkhayal bahwa tepat hari ini [11 November] di Reich akan ada kejatuhan moril, yang kini justru didorong oleh mereka menuju masa depan tak terlihat”. Sehari kemudian seorang pejabat Nazi berbicara di radio domestik: “Tanggal-tanggal kunci yang dipilih oleh musuh sudah dilalui: rakyat kita sudah memukul mundur serangan ini…”

Pendek kata, kita anggap manuskrip ini kurang-lebih mencerminkan strategi dan taktik propaganda Goebbels: ini merupakan panduan pas menuju materi propagandanya yang berlimpah. Dia selalu membesar-besarkan nilai penting karyanya, tak salah lagi untuk menunjukkan signifikansinya sendiri. Kebenaran dikteannya dalam hal ini juga tak relevan, karena efek usahanya tidak diteliti dengan cermat.

Analisa berikut, jangan lupa, didasarkan pada masa kepengurusan Goebbels yang sangat terbatas, masa di mana secara umum Jerman sedang menderita kekalahan militer dan politik, contohnya kampanye musim dingin di Rusia, penarikan dari Afrika Utara, dan penyerahan Italia. Meski begitu, dari waktu ke waktu terjadi peristiwa semisal kemajuan militer sementara dan kemenangan Jepang di Asia; karenanya ada pula usulan tentang bagaimana Goebbels bekerja sebagai pemenang. Penulis sudah memeriksa sumber primer dan sekunder dari 1925 s/d 1941 dan pasca 1943, sehingga merasa yakin secara pribadi bahwa prinsip-prinsipnya tidak terbatas pada diari tersebut.

Dalam analisa ini, sebuah prinsip diajukan—mau tak mau secara subjektif—ketika minimal enam rujukan yang berserakan di dalam diari mengisyaratkan bahwa Goebbels percaya, sadar atau tidak, pada generalisasi tersebut sebelum dia mendikte atau bertindak. Namun, demi menghemat ruang, tak banyak uraian yang disajikan di bawah setiap prinsip. Kapanpun memungkinkan, uraian telah diseleksi dari bagian yang dipublikasikan oleh Lochner: pembaca punya akses lebih mudah ke jilid ini daripada ke manuskrip di Stanford. Prosedur serupa diterapkan menyangkut rujukan. Frasa atau kalimat kutipan diikuti oleh nomor halaman yang dikutip, dari buku Lochner (di mana nomor sederhana diberikan dalam tanda kurung) ataupun dari manuskrip Stanford (di mana nomornya didahului huruf “M” dan mewakili penomoran Perpustakaan. Selain itu, kalimat penutup setiap paragraf memuat satu rujukan yang dianggap paling baik atau paling khas untuk paragraf bersangkutan, lagi-lagi utamanya dari buku Lochner. Penulis dengan senang hati menghormati permintaan rujukan tambahan secara tertulis.

Prinsip-prinsip ini bermaksud merangkum apa yang menggerakkan atau tidak menggerakkan Goebbels. Ini boleh dianggap sebagai warisan intelektualnya. Apakah warisan ini telah disimpulkan secara andal? Itu soal metodologis. Apakah ini valid? Itu perkara psikologis. Apakah atau kapankah bagian-bagiannya mesti dimanfaatkan dalam masyarakat demokratis? Itu masalah politik dan etika yang mendalam dan mengganggu.

1. Propagandis harus punya akses ke informasi intelijen menyangkut peristiwa dan pendapat khalayak

Secara teori, Goebbels berpendapat bahwa dia dan rekan-rekannya dapat merencanakan dan melaksanakan propaganda hanya dengan terus merujuk pada informasi intelijen yang ada. Kalau tidak, komunikasi takkan teradaptasi dengan peristiwa ataupun audiens. Seiring memburuknya situasi Jerman, dia mengurangi jumlah pejabat yang boleh mengakses semua informasi intelijen relevan. Pada Mei 1943 dia membujuk Himmler untuk memasok laporan utuh kepada dirinya saja (373).

Informasi intelijen dasar pada masa perang berkenaan dengan peristiwa-peristiwa militer. Entri diari harian diawali dengan deskripsi terpisah seputar situasi militer mutakhir. Ada indikasi bahwa Goebbels terus diberitahu tentang rencana militer Jerman (162).

Informasi tentang warga Jerman diperoleh paling sering dari laporan Sicherheits-Dienst (SD) polisi rahasia. Selain itu, Goebbels bergantung pada Kantor Propaganda Reich, pejabat Jerman, dan kontak tulisan atau kontak muka dengan sipil atau tentara Jerman. Sebagaimana ditunjukkan di tempat lain[4], tak banyak atau tak satupun dari informasi intelijen ini pernah dihimpun atau dianalisa secara sistematis. Suatu kali Goebbels menyatakan bahwa SD telah melakukan “pengusutan statistik…dengan gaya Gallup Institute”, tapi dia mengaku “tidak menghargai pengusutan semacam itu karena tidak selalu dikerjakan dengan tujuan terencana” (M827). Namun Goebbels cenderung lebih percaya pada akal sehat, intuisi, atau pengalamannya sendiri ketimbang laporan formal. Dia mendengarkan ibunya karena, katanya, “dia lebih tahu sentimen orang-orang dibanding kebanyakan pakar yang menilai dari menara gading penyelidikan ilmiah, karena suara orang-orang itu sendiri berbicara” (56).

SD serta para pejabat Jerman memasok informasi intelijen tentang negara-negara dudukan. Informasi mengenai negara musuh, negara sekutu, dan negara netral dikumpulkan dari mata-mata, percakapan telepon yang dimonitor, dan sumber-sumber terklasifikasi lain; dari interogasi tahanan serta dari surat yang mereka terima dan kirim; dan dari pernyataan dalam atau pengambilan kesimpulan dari media komunikasi massa negara-negara tersebut. Di sini, Goebbels juga kerap bersandar pada penilaian intuitifnya sendiri, dan dia jarang ragu untuk membuat kesimpulan luas dari seberkas bukti. Tanggapan langsung dari musuh, sebagai contoh, dia tafsirkan secara tegas sebagai tanda keefektifannya sendiri: “serangan liar terhadap artikel terbaru saya” oleh kantor berita Rusia “menunjukkan bahwa propaganda anti-Bolshevik kami lambat-laun mengusik Soviet” (271).

2. Propaganda harus direncanakan dan dilaksanakan oleh satu otoritas saja

Prinsip ini sejalan dengan teori Nazi yaitu sentralisasi kewenangan dan dengan hasrat kekuasaan Goebbels sendiri. Di dalam diari, dia menekankan efisiensi dan konsistensi yang bisa dihasilkan dari kebijakan demikian (M383). Dia merasa otoritas tunggal—dirinya sendiri—harus melakukan tiga fungsi:

a) Itu harus menerbitkan semua arahan propaganda. Setiap keping propaganda harus mengimplementasikan kebijakan, dan kebijakan dibuat jelas dalam arahan. Arahan-arahan ini mengacu pada semua fase perang dan pada semua peristiwa yang terjadi di dalam dan di luar Jerman. Mereka mengindikasikan kapan kampanye propaganda tertentu harus dimulai, diperbanyak, dikurangi, dan diakhiri. Mereka menunjukkan bagaimana sebuah item harus ditafsirkan dan diutamakan, atau apakah itu harus diabaikan sama sekali. Goebbels dengan sukarela menyerahkan wewenang menerbitkan arahan hanya kepada Hitler, yang selalu diminta persetujuannya terhadap urusan-urusan penting. Kadang diekspresikan kepuasan terkait cara-cara implementasi kebijakan; tapi sering ada keluhan tentang bagaimana orang-orang Goebbels sendiri atau pihak lain melaksanakan sebuah kampanye. Oleh sebab itu, mesin propaganda Nazi terus-menerus direorganisasi (341).

b) Itu harus menjelaskan arahan propaganda kepada pejabat penting dan menjaga moril mereka. Para pejabat yang secara formal ataupun informal mengimplementasikan arahan tidak bisa diharap bekerja efektif dan sukarela, kecuali jika mereka diberi penjelasan tentang kebijakan propaganda. Lewat mesin organisasinya dan juga kontak pribadi, Goebbels berusaha mengungkap dasar pemikiran propagandanya kepada para bawahan ini dan menaikkan moril mereka dengan berpura-pura mempercayakan rahasianya pada mereka. Kelompok yang dia temui bervariasi dalam hal ukuran, mulai dari pertemuan akrab di rumahnya hingga rapat massa di Kroll Opera House di Berlin (484).

c) Itu harus mengawasi kegiatan agensi lain yang mempunyai konsekuensi propaganda. “Saya percaya,” kata Goebbels kepada Hitler, “ketika suatu kementerian propaganda terbentuk, semua perkara yang mempengaruhi propaganda, berita, dan budaya di dalam Reich dan di dalam wilayah dudukan harus disubordinasikan padanya.” Walaupun Hitler diduga “setuju dengan saya secara mutlak dan penuh”, penyatuan tingkat tinggi ini tidak tercapai (476). Konflik seputar rencana dan materi propaganda terekam pada agensi-agensi Jerman berikut: Kantor Urusan Luar Negeri Ribbentrop dan perwakilannya di berbagai negara; Kementerian Wilayah Dudukan Timur Rosenberg; Tentara Jerman, bahkan mencakup para perwira yang ditempatkan di Markas Umum Hitler; Kementerian Kehakiman; dan Kementerian Ekonomi Ley. Goebbels menganggap dirinya dan kementeriannya adalah pemecah masalah: kapanpun dan di manapun moril Jerman terasa rendah—entah di kalangan awak kapal selam ataupun tentara di Timur—dia berupaya menyediakan genjotan propaganda yang dibutuhkan (204).

Kegagalan Goebbels untuk mencapai sasaran prinsip ini dan konsekuensi alaminya patut dicatat. Rupanya kompetensi yang dia klaim tidak diakui secara universal: orang-orang yang dianggap amatir yakin dapat melaksanakan propaganda seefektif dirinya. Selain itu, sebuah rezim totaliter sekalipun tidak dapat menyapu bersih persaingan dan permusuhan pribadi demi kepentingan efisiensi (M3945).

3. Konsekuensi propagandis sebuah tindakan harus dipertimbangkan dalam perencanaan tindakan tersebut

Goebbels menuntut agar dirinya, alih-alih Kementerian Kehakiman Jerman, diberi tanggungjawab atas sebuah persidangan di Prancis sehingga “segalanya akan disita dan dieksekusi dengan tepat dari sudutpandang psikologis” (M1747). Dia membujuk Hitler, tulisnya, untuk melakukan “perang udara terhadap Inggris…berdasarkan prinsip psikologis ketimbang militer” (313). Adalah lebih penting seorang propagandis membantu merencanakan sebuah peristiwa daripada merasionalisasi peristiwa yang sudah terjadi.

4. Propaganda harus mempengaruhi kebijakan dan tindakan musuh

Propaganda dianggap senjata perang, walaupun Goebbels tak pernah memakai frasa ‘perang psikologis” atau “perang politik”. Selain merugikan moril musuh, dia percaya propaganda dapat mempengaruhi kebijakan dan tindakan pemimpin musuh dalam empat cara:

a) Dengan menyembunyikan materi propaganda layak yang bisa menjadi informasi intelijen berguna bagi musuh. Goebbels sering mengklaim bahwa dirinya menolak untuk mengingkari atau menyangkal klaim musuh seputar kerugian udara [Jerman]: “adalah lebih baik,” katanya pada April 1942, “Inggris berpikir sudah sukses besar dalam perang udara dibanding betul-betul meraih kemenangan demikian” (M2057). Untuk alasan serupa, dia dengan penuh sesal menyensor item-item tentang kualitas jelek senjata Soviet, rencana Jerman mempergunakan senjata rahasia, dan bahkan berita militer yang menyenangkan (272).

b) Dengan secara terbuka menebar propaganda yang isi atau nadanya membuat musuh menarik kesimpulan diinginkan. “Saya juga yakin,” kata Goebbels pada musim semi 1943, “sikap teguh pihak kita [dalam propaganda] akan merusak selera Inggris terhadap invasi” (302). Oleh sebab itu, seiring berakhirnya Pertempuran Tunisia, perlawanan pasukan Jerman di sana dipakai sebagai gambaran apa yang akan terjadi jika benua Eropa diinvasi. Goebbels pasti menimbang, mungkin rencana Jenderal Eisenhower akan langsung terpengaruh; pendapat khalayak Inggris atau Amerika akan mempengaruhi SHAEF; atau moril para tentara yang sedang dilatih untuk menghadapi invasi akan lumpuh (M4638).

c) Dengan mendorong musuh agar mengungkap informasi vital tentang dirinya sendiri. Di akhir Pertempuran Laut Coral, Goebbels percaya bahwa Jepang telah mencetak kemenangan tuntas. Kebungkaman otoritas Amerika dan Inggris kemudian diserang “dengan pertanyaan-pertanyaan amat jitu: mereka takkan bisa menghindari tanggungjawab menjawab pertanyaan itu sampai kapanpun” (M2743).

d) Dengan tidak menyebut-nyebut kegiatan musuh bila suatu penyebutan akan mendiskreditkan kegiatan tersebut. Goebbles tidak mau memberi “kecupan kematian” pada urusan yang sudah dia restui. Tidak ada penggunaan berita yang menunjukkan hubungan tak ramah antara dua atau lebih negara-negara penentang Jerman karena—dalam kata-kata favorit Goebbels yang hambar dan sering diulang—“percekcokan di antara Blok Sekutu merupakan tumbuhan kecil yang akan tumbuh paling subur bila dibiarkan tumbuh alami” (M941). Demikian pula, alat propaganda Nazi dijauhkan dari Tribune Chicago, dari mogok buruh batu bara di AS, dan dari kelompok-kelompok anti-Komunis atau pro-fasis di Inggris. Namun, perselisihan di antara musuh-musuh Jerman dieksploitasi penuh ketika—seperti dalam kasus bentrokan Inggris-Amerika terkait [pembunuhan] François Darlan—konfliknya kuat dan terbuka (225).

5. Informasi operasional terdeklasifikasi harus tersedia untuk mengimplementasikan kampanye propaganda

Tujuan propaganda, tak peduli nilai pentingnya, mensyaratkan materi operasional yang tidak bertentangan dengan aturan keamanan. Materi tidak bisa direkayasa sepenuhnya: itu harus punya landasan faktual, sesedikit apapun. Sulit sekali memulai kampanye anti-semit pasca kejatuhan Tunis, sebab wartawan Jerman gagal mengumpulkan literatur anti-Yahudi. Namun, ketiadaan materi tak pernah merintangi kampanye untuk jangka waktu tertentu, karena sejumlah penggalian dapat menghasilkan implementasi yang diperlukan. Para wartawan diutus ke wilayah krusial untuk menulis artikel; diambil langkah-langkah untuk memastikan pasokan “berita otentik dari AS” (92); perubahan pada personil direnungkan “untuk menyuntikkan darah segar ke dalam jurnalisme Jerman” dan karenanya menghasilkan tulisan yang lebih baik (500); atau, bila perlu, Protocols of Zions dihidupkan kembali (376).

Seperti agen publisitas manapun, Goebbels juga menciptakan “berita” melalui tindakan. Untuk mendemonstrasikan persahabatan Jerman terhadap Finlandia, contohnya, sekelompok anak sakit Finlandia diundang ke Jerman dalam “liburan pemulihan kesehatan” (M91). Pemakaman tokoh-tokoh Nazi dijadikan proses yang layak diberitakan; teknik ini juga diterapkan pada korban serangan udara Inggris dari pihak Prancis dan Belgia. Hari jadi Jerman dan Nazi dirayakan begitu rutin sampai-sampai hari jadi pendirian Three Power Pact masih dihormati setelah kejatuhan Italia (M5859).

6. Agar dilirik, propaganda harus membangkitkan minat audiens dan harus disebarkan lewat media komunikasi yang mendapat perhatian

Banyak energi dicurahkan untuk membangun dan memelihara media komunikasi. Bioskop dan suratkabar di negara-negara netral atau dudukan dikendalikan atau dibeli. “Sayang sekali kita tidak bisa menjangkau rakyat Uni Soviet melalui propaganda radio,” kata Goebbels, karena “Kremlin sudah cukup pintar untuk mencegah rakyat Rusia menerima siaran dunia luas dan membatasi mereka pada stasiun lokal” (453). Jadwal acara-acara radio Jerman disesuaikan ketika Inggris memperkenalkan “waktu musim panas ganda”. Terdapat dilema menyangkut perangkat penerimaan di negara-negara dudukan: jika disita, orang-orang akan terputus dari propaganda Nazi dan musuh; jika tidak, kedua pihak bisa didengar. Di dalam Reich diciptakan mesin-mesin untuk membuka ulang bioskop secepat mungkin pasca serbuan udara sengit (M5621).

Sejenis umpan dirancang untuk menarik dan menahan audiens. “Propaganda” lewat radio, menurut Goebbels, cenderung menghalau audiens setelah beberapa lama. Pada 1942 dia berkesimpulan bahwa orang Jerman ingin radio mereka menyediakan “bukan saja instruksi tapi juga hiburan dan relaksasi” (M383), dan bahwa berita lurus ketimbang “obrolan” lebih efektif di kalangan audiens luar negeri. Seperti propagandis manapun di masa perang, dia akui acara radio dapat menarik pendengar musuh dengan memberi mereka nama-nama tawanan perang. Bentuk terbaik propaganda suratkabar bukanlah “propaganda” (yakni editorial dan desakan), melainkan berita miring yang tampak lurus (M4677).

Goebbels terutama menyukai film. Minimal tiga malam seminggu dia mempratinjau film cerita atau film wartaberita bukan saja untuk mencari relaksasi dan rombongan orang-orang film tapi juga untuk menawarkan apa yang dianggapnya kupasan pakar. Gambar cerita, tuturnya, harus menyediakan alur menghibur dan memikat yang dapat membangkitkan dan kemudian memecahkan ketegangan; pada saat bersamaan itu harus secara halus mempengaruhi audiens pemerhati bukan melalui petikan khusus tapi suasana umum. Bukti keyakinan Goebbels pada pentingnya film wartaberita datang dari fakta bahwa dia buru-buru menyediakan markas darurat untuk perusahaan film wartaberitanya pasca salah satu serbuan udara tersengit yang Berlin alami di penghujung 1943. “Susah sekali merangkai film wartaberita dengan tepat setiap pekan dan menjadikannya senjata propaganda efektif,” tinjaunya dalam kesempatan lain, “tapi hasilnya sepadan: jutaan orang menyimpulkan pemahaman terbaik mereka tentang perang, sebab-sebabnya, dan akibat-akibatnya dari film wartaberita.” Dia juga percaya film wartaberita menyediakan “bukti” atas banyak poin utama propagandanya: citra visual—tak peduli bagaimana dia sendiri memanipulasinya sebelum dirilis—mempunyai kredibilitas lebih besar daripada kata-kata terucap atau tertulis (M335).

Goebbels tak pernah menyatakan secara eksplisit apakah menurutnya suatu media lebih cocok untuk menyajikan tema-tema propaganda tertentu dibanding media lain. Cuma disebutkan beberapa observasi acak, misalnya bahwa selebaran tidak efektif ketika “opini terlalu kaku dan sudutpandang terlalu teguh” (M2065). Satu asumsi dasarnya adalah bahwa semua media harus dipergunakan secara serentak, karena kita tak pernah tahu umpan jenis apa yang akan menangkap beranekaragam ikan, yakni target Nazi (M828).

7. Kredibilitas saja yang harus menentukan apakah output propaganda boleh benar atau palsu

Sikap moral Goebbels dalam diari tidak berbelit-belit: dia mengatakan kebenaran, musuhnya berkata bohong. Justru persoalan baginya adalah persoalan kemanfaatan, bukan persoalan moralitas. Kebenaran, pikirnya, mesti dipakai sesering mungkin; kalau tidak, musuh atau fakta itu sendiri dapat membeberkan kepalsuan, dan kredibilitas outputnya sendiri akan mengalami kerugian. Dia juga menyatakan, orang Jerman sudah lebih pintar sejak 1914: mereka bisa “membaca apa yang tersirat” dan karenanya tidak mudah diperdaya (M1808).

Alhasil, dusta berguna bila tidak bisa disangkal. Untuk membujuk Italia supaya meninggalkan wilayah yang diduduki pasukan Inggris dan Amerika dan kemudian mengakali mereka masuk ke Jerman sebagai pekerja, Goebbels menyiarkan klaim bahwa “Inggris dan Amerika akan memaksa semua anggota wamil untuk mendaftar” (462). Namun, kebenaran pun dapat merusak kredibilitas. Pertama, beberapa pernyataan benar bisa saja ternyata palsu, contohnya klaim tertentu menyangkut kerusakan yang ditimbulkan oleh pesawat terhadap target musuh. Kedua, kebenaran itu sendiri bisa terlihat tidak benar. Goebbels takut memberitahu orang Jerman bahwa Jenderal Rommel tidak berada di Afrika selama hari-hari terakhir kampanye di sana: “setiap orang berpikir dia ada di Afrika; jika kami mengungkap yang sebenarnya padahal bencana begitu dekat, takkan ada yang mempercayai kami” (352).

Demikian halnya, setiap sarana dan alat harus mempertahankan kredibilitasnya sendiri. Komunike atau buletin khusus dipergunakan, contohnya, untuk mengumumkan peristiwa penting. Goebbels takut berpaling pada alat ini terlalu sering, kalau-kalau itu kehilangan karakter lazimnya, dan karenanya dia melansir beberapa berita signifikan lewat saluran rutin (M5799).

8. Tujuan, isi, dan efektivitas propaganda musuh; kekuatan dan efek pembeberan; dan sifat kampanye propaganda mutakhir menentukan apakah propaganda musuh boleh diabaikan atau disangkal

Goebbels sangat khawatir dengan propaganda musuh. Meski sudah mengendalikan semua media massa di Jerman sejak 1933, dia pasti yakin bahwa orang Jerman belum sepenuhnya memeluk jalan Nazi, atau minimal mereka dirusak oleh upaya musuh. Dia mengakui pada Januari 1942 bahwa “siaran luar negeri kembali didengarkan secara lebih luas” walaupun perbuatan tersebut bisa dijatuhi hukuman mati (44). Empat belas bulan kemudian dia mencatat dengan cemas, “Inggris dan Amerika sudah memperluas siaran radio mereka ke negara-negara Poros dan bermaksud meningkatkannya lebih jauh lagi” (312).

Impuls pertama Goebbels adalah menanggapi propaganda musuh. Dia menulis seolah-olah dirinya anggota International Debating Society dan seolah-olah kebungkamannya berarti kehilangan argumen dan prestise. Padahal dia dengan bijak menimbang sejumlah faktor sebelum memutuskan untuk mengabaikan atau menyangkal klaim musuh (M2593).

Pertama-tama, dia menganalisa propaganda musuh. Jika tujuan propaganda [musuh] adalah untuk memancing tanggapan, dia bungkam. “Inggris,” tuturnya pada 6 Februari 1942, “sedang mempergunakan mode propaganda baru: mereka mengikat Jenderal Rommel pada sasaran-sasaran yang tidak dia miliki saat ini, agar mereka dapat mendeklarasikan dalam delapan hingga empat belas hari ke depan bahwa dia belum mencapai sasaran-sasaran ini” (M423). Tanggapan langsung sama saja dengan meremehkan tentara Jerman. Tindakannya adalah membeberkan perangkap tersebut kepada bawahan dan lalu menyuruh mereka tetap bungkam di media massa (M4606).

Di sisi lain, tanggapan dibuat jika dirasa bahwa musuh sedang menyebarkan kepalsuan mencolok. Karena hampir setiap pernyataan musuh dianggap palsu, Goebbels percaya hanya pernyataan mencolok yang harus dibongkar. Dia memasukkan klaim bahwa Jerman mengebom Vatican City, bahwa terdapat “kekacauan di Berlin” (M4664), bahwa Stalin mengadopsi kebijakan lebih lunak terhadap agama, dan lain-lain (M4971) ke dalam kategori ini.

Klaim musuh yang tak efektif tak perlu ditanggapi, karena penyangkalan akan membuatnya lebih tersebar atau membuang-buang energi propaganda. Propaganda musuh sangat sering dicap tidak efektif; tampaknya ini adalah penilaian intuitif atau rasionalisasi ketidakmampuan untuk menanggapi. Namun, propaganda musuh yang efektif menuntut tindakan segera. Musuh, sebagai contoh, jarang dibiarkan memperoleh prestise; jadi Goebbels menyerang bualan Inggris soal parasut yang mendarat di Le Havre, serbuan terhadap St. Nazaire, dan pendudukan Madagaskar. Terkadang seolah-olah dia mengadakan kontra-operasi bukan karena musuh sukses tapi hanya karena dia mampu melakukan itu. Ketika musuh diduga mempergunakan horoskop dan propaganda klenik lain terhadap Jerman, tanggapan sejenis segera disiapkan. Jika musuh tampak mencetak kemenangan propaganda penting dalam “perang urat syaraf”—terutama di awal serbuan sengit Inggris terhadap kota-kota Jerman, pasca kejatuhan Mussolini, atau di tengah tekanan kuat terhadap Turki oleh Inggris di akhir musim gugur 1943—satu-satunya tanggapan memadai adalah pidato Hitler sendiri (251).

Kedua, Goebbels memeriksa gudang senjata propagandanya sendiri sebelum mengujicoba tanggapan. Dia tetap bungkam jika merasa bahwa pernyataannya, tanpa kehadiran fakta atau argumen, akan tampak terlalu lemah. Dia begitu khawatir dengan German National Committee yang dibentuk oleh Rusia di Moskow sampai-sampai tidak melakukan kontra-propaganda terhadap kelompok ini. Kadang klaim musuh tidak dipedulikan dan kontra-klaim dimajukan. Saat Jerman dikecam atas perlakuannya terhadap Yahudi, kebijakan “bungkam total” dirasa tak bijak: “paling baik adalah mengambil [langkah] ofensif dan mengatakan sesuatu tentang kekejaman Inggris di India atau Timur Dekat” (M3064) dan juga “mengintensifkan…propaganda anti-Bolshevik kami” (M3225).

Goebbels juga berusaha menaksir efektivitas sebuah bantahan. Jika pernyataannya sendiri dan musuh terasa kuat tapi pernyataan musuh akan lebih kuat berkat upaya sangkalannya, dia menahan tembakan. Lebih baik berkonsentrasi pada penebaran pidato Hitler ketimbang menanggapi kritik luar negeri. Namun, dia sering percaya bahwa sebuah pembeberan dapat melindungi Jerman atau membantu mengebalkan orang asing dari kampanye musuh yang akan atau sudah diluncurkan. Oleh sebab itu seruan damai dari tiga negara blok sekutu sudah diantisipasi, dan tanggapannya terhadap komunike Konferensi Teheran adalah “tajam dan kasar; kami menuangkan berember-ember ejekan dan cemoohan atas Konferensi itu” (545).

Ketiga, Goebbels percaya bahwa propaganda terkininya harus ditinjau sebelum propaganda musuh dapat diabaikan atau disangkal. Dia tak mengupayakan tanggapan bila itu dapat membelokkan perhatian dari, atau menjadi tandingan bagi, tema-tema propaganda yang lebih penting. “Tak ada gunanya menyibukkan diri setiap hari dengan tema-tema dan rumor-rumor baru yang ditebar oleh musuh,” tuturnya, karena penting sekali berkonsentrasi pada “tema utama” anti-Semitisme (M4602). Pada Maret 1943 dia mengizinkan “laporan-laporan kemenangan Bolshevik…pergi ke dunia tanpa tantangan”: dia ingin Eropa “merinding”, sehingga “mereka akan lebih cepat sadar” dan bekerjasama melawan Rusia (284).

9. Kredibilitas, informasi intelijen, dan efek komunikasi menentukan apakah materi propaganda harus disensor

Goebbles tak keberatan soal penerapan sensor. “Kebijakan berita,” katanya, “adalah senjata perang; tujuannya adalah untuk melancarkan perang dan bukan untuk memberikan informasi” (210). Keputusannya bertumpu pada tiga pertimbangan pragmatis (299).

Pertama, Goebbels mengakui bahwa seringkali kredibilitas dapat rusak jika sebuah item disensor: “di masa-masa bergejolak dan tegang, dahaga akan berita bagaimanapun harus dipenuhi” (40). Ketika Kantor Urusan Luar Negeri menyensor berita yang dia anggap penting, dia mengeluh, “dengan kebijakan seperti itu kita sedang mendorong publik Jerman untuk mendengarkan siaran luar negeri dan musuh” (164). Oleh karenanya berulangkali dia merasa harus angkat bicara, walaupun lebih suka bungkam. Menjelang akhir 1943, contohnya, dia menyatakan persoalan evakuasi orang-orang dari wilayah yang dibom “sudah begitu serius sehingga harus didiskusikan dengan jernih sebagaimana mestinya” (M6435).

Kebijakan lazim adalah menyembunyikan materi yang dianggap tidak layak untuk konsumsi Jerman, tapi sekaligus mempergunakannya dalam propaganda luar negeri seandainya cocok untuk itu. Kisah-kisah tentang dugaan kanibalisme tentara Soviet disebar di negera-negara asing, tapi materi tersebut dilarang di Jerman agar tidak menakuti rakyat Jerman yang kerabatnya sedang melawan Rusia. Namun terkadang materi tak layak tidak disensor di dalam negeri demi menjaga kredibilitas materi bersangkutan di luar negeri (M2699).

Kedua, penyensoran dilakukan ketika informasi intelijen seputar hasil perkembangan tidak memadai. Di sini Goebbels ingin mempertahankan kredibilitas atau memperoleh lebih banyak fakta sebelum merumuskan arahan. Ramalan militer dianggapnya riskan, tapi dia juga menghindari komentar tentang peristiwa politik di luar Reich sampai dia dapat mengantisipasi efeknya terhadap Jerman dengan cukup pasti (M5036).

Terakhir, Goebbels menaksir efek penyampaian informasi. Penyensoran ditempuh bila dianggap bahwa pengetahuan tentang peristiwa akan melahirkan reaksi yang tak dikehendaki atau yang, walau dikehendaki dalam beberapa kondisi, tidak sejalan dengan arahan terkini. Dinilai dari jenis berita yang dia sembunyikan, Goebbels khawatir berita-berita berikut merusak moril Jerman: diskusi tentang agama; pernyataan pejabat negara netral atau dudukan yang memusuhi Jerman atau pejabat musuh yang dapat membangkitkan simpati pada mereka; peringatan musuh bahwa akan ada serbuan sebelum serbuan sengit dimulai dan—selanjutnya—tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh pesawat musuh; tindakan berbahaya yang mencakup pembunuhan pejabat, sabotase, dan pembelot; keputusan atau perbuatan naas pejabat Jerman; peremehan kekuatan Jerman melalui kejadian seperti kaburnya Jenderal Giraud dari penjara Jerman; peningkatan kegelisahan orang Jerman yang berlebihan; dan isyarat bahwa Jerman tidak mengakui penuh mitra-mitra Porosnya (249).

10. Materi dari propaganda musuh boleh dimanfaatkan dalam operasi bila itu membantu mengurangi prestise musuh bersangkut atau menunjang tujuan propagandis

Walaupun sikap dasarnya terhadap propaganda musuh adalah sikap jijik, Goebbels menyisir siaran, suratkabar, dan pernyataan resmi musuh guna mencari item-item yang bisa dipakai. Di sini dia tidak didorong oleh hasrat defensif untuk menanggapi musuh, tapi oleh pertimbangan ofensif: kata-kata musuh (bandingkan Prinsip 8) dapat membantunya mencapai tujuan propaganda. “Pagi ini kami mempublikasikan di pers Jerman sekumpulan dusta Churchill terdahulu dan menonjolkan sepuluh poin; kumpulan ini membuat kesan yang dalam pada pers netral dan menunjukkan Churchill sebagai Laksamana Tak Cakap” (M202). Musuh menyediakan landasan untuk kampanye “kekuatan lewat ketakutan” milik Goebbels sebagaimana ditunjukkan dalam Prinsip 16 di bawah. “[Robert] Vansittart betul-betul bernilai bagi propaganda kami” (342), tulisnya, dan dia juga merasa diskusi apapun di Inggris atau Rusia tentang urusan ganti rugi atau perbatasan pasca kekalahan Jerman “berkontribusi besar pada pemeliharaan dan penguatan moril” di dalam Reich (M765).

11. Propaganda hitam ketimbang putih harus dipergunakan ketika yang putih kurang kredibel atau menghasilkan efek tak dikehendaki

Propaganda “hitam” di sini adalah materi yang sumbernya disembunyikan dari audiens. Goebbels menyamarkan identiasnya ketika dia yakin bahwa pertalian media putih dengan dirinya atau mesinnya akan merusak kredibilitas media tersebut. Pada suatu waktu, contohnya, dia ingin membujuk Inggris untuk berhenti mengebom Berlin dengan meyakinkan mereka bahwa mereka sedang membuang-buang bom. Dia mengklaim memakai penjaja rumor untuk menyebarkan ide bahwa kota itu “praktis tak mampu lagi menopang kehidupan, yakni tak lagi eksis” (M6654). Kiranya kisah ini lebih berpeluang untuk dipercayai jika otoritas Jerman tidak terkait dengannya. Rencana paling rinci diramu untuk coba memperdayai Rusia perihal seksi front di mana Jerman telah merencanakan ofensif pada musim panas 1942. Seorang wartawan Jerman, yang sudah lebih dulu sengaja dikirim ke front Timur, kemudian diutus ke Lisbon di mana dia melakukan, pura-pura di bawah pengaruh minuman keras, kecerobohan padahal sebetulnya penipuan. Selain itu, dibuat rencana untuk menanam “artikel terkamuflase…melalui perantara di pers Turki atau Portugis” (226), dan Frankfurter Zeitung disuruh mencetak artikel “tak sah” yang kemudian “secara resmi dibredel dan dicela dalam konferensi pers” (221). Goebbels berusaha menambah jumlah pembelot Soviet dengan memperbaiki kamp tawanan perang di mana mereka akan ditahan—muslihat perang psikologis kuno ini bersandar pada harapan bahwa kabar perbaikan akan sampai ke telinga prajurit Soviet melalui saluran informal. Sebaliknya, kecuali untuk petunjuk keamanan dari waktu ke waktu, diari tidak menyebut-nyebut operasi hitam di dalam negara musuh (M4235).

Goebbels juga memanfaatkan cara hitam untuk memerangi rumor tak dikehendaki di dalam Reich. Sangkalan resmi lewat media putih, pikirnya, justru mungkin membuat rumor tersebar, sementara apa yang dia sebut propaganda “dari mulut ke mulut” untuk melawannya dapat meraih efek dikehendaki. Metode ini dipergunakan untuk mengimbangi kekhawatiran [rakyat] Jerman bahwa “seandainya serbuan lebih serius terjadi, pemerintah akan jadi pihak pertama yang lari” dari Berlin (421). Sepanjang waktu “warga yang setia pada negara harus diperlengkapi argumen penting untuk memerangi defeatism dalam obrolan mereka di tempat kerja dan jalan raya” (401). Namun, terkadang rumor diserang secara resmi ketika, menurut Goebbels, semua fakta berpihak penuh dan tegas kepadanya.

12. Propaganda dapat difasilitasi oleh pemimpin berwibawa

Prinsip ini wajar datang dari Goebbels, yang ideologi Nazi-nya menekankan nilai penting kepemimpinan. Rakyat Jerman, diharapkan, akan tunduk pada propaganda yang memuat nama seorang pemimpin berwibawa. Goebbles selalu menantikan hasil penting dari pernyataan Hitler terutama pada waktu genting; dia rutin mencatat bahwa komunikasi telah diterima oleh rakyat Jerman dengan antusiasme penuh atau bahwa itu “telah mencengangkan musuh” (506).

Pemimpin hanya berguna apabila mereka punya wibawa. Goebbels memanfaatkan propaganda untuk menciptakan pahlawan dari orang-orang semacam Marsekal Lapangan Rommel. Dalam keleluasaan diarinya, dengan ganas dia menyerang para pemimpin Jerman yang perilakunya di depan umum tidak patut diteladani, karena dengan begitu mereka mengacaukan propaganda yang mendorong warga Jerman untuk berkorban lebih besar dan percaya teguh pada pemerintah. Pejabat Nazi yang tak cakap tidak dipecat secara terbuka, agar ketakcakapannya tidak mencerminkan “rezim Sosialis Nasional”; justru diumumkan bahwa dia diganti sementara karena sakit (224).

13. Propaganda harus diatur waktunya secara cermat

Goebbels selalu menghadapi masalah taktis pengaturan waktu propaganda yang paling efektif. Ketangkasan dan kelenturan diperlukan, pikirnya, dan para propagandis harus punya kemampuan “mengkalkulasi efek psikologis dari awal” (204). Ada tiga prinsip yang beroperasi:

a) Komunikasi harus menjangkau audiens lebih dulu dari propaganda pesaing. “Barangsiapa mengucapkan kata pertama kepada dunia, dia selalu benar,” kata Goebbels datar (183). Dia terus berusaha mempercepat perilisan berita oleh organisasinya. Lepasnya Kiev diakui secepat mungkin “agar kita tidak berjalan pincang di belakang pengumuman musuh” (M6061).

b) Kampanye propaganda harus dimulai pada momen optimal. Goebbels tak pernah menunjukkan secara eksplisit atau implisit bagaimana dia memutuskan bahwa waktunya sudah matang atau tepat untuk memulai kampanye atau membuat pengumuman. Dia membuat pernyataan seperti ini: “kita sudah bertahan untuk waktu sangat lama” dalam memakai seorang pemimpin India, yang, sebagai boneka Jerman, mengikatkan negaranya pada perang melawan Inggris, “karena keadaaan di India belum berkembang cukup jauh sampai sekarang” (107). Pada satu titik dia menyatakan kontra-propaganda terhadap klaim musuh sebaiknya tidak ditunda terlalu lama: “kita tidak boleh biarkan laporan-laporan bohong itu tertanam terlalu dalam” (M2430).

c) Tema propaganda harus diulang, tapi jangan sampai mengurangi efektivitas. Di satu sisi, Goebbels percaya propaganda harus diulang sampai itu dipahami secara menyeluruh dan bahwa pengulangan tambahan diperlukan untuk memperkuat kepahaman. Pengulangan demikian berlangsung seiring waktu—tema yang sama disebutkan setiap hari—serta dalam output satu hari. Kampanye anti-Semit, misalnya, berlanjut berminggu-minggu; selama itu “70 sampai 80 persen siaran kita dicurahkan padanya” (366). Di sisi lain, pengulangan bisa saja tidak diperlukan atau bahkan tidak dikehendaki. Itu tidak diperlukan ketika “materi yang dipublikasikan sejauh ini sudah betul-betul meyakinkan khalayak” (386). Itu tidak dikehendaki ketika temanya jadi membosankan atau tak berkesan, sebagaimana terjadi dalam pengumuman tentang kesuksesan kapal selam Jerman. Selain itu, terkadang senjata [propaganda] yang mendentum di awal kampanye, meski dikehendaki secara psikologis, bisa membuat propagandanya terlalu “mencolok” dan alhasil kehilangan kredibilitas (M6343).

14. Propaganda harus melabeli peristiwa dan orang dengan frasa atau slogan tersendiri

Berulangkali Goebbels menitikberatkan frasa dan slogan untuk menggolongkan peristiwa. Di awal 1942, contohnya, dia memulai sebuah kampanye yang tujuannya adalah menunjukkan keresahan ekonomi, sosial, dan politik di Inggris. Dia cepat-cepat memungut frasa “schleichende Krise”—krisis menyeramkan—untuk melukiskan keadaan ini dan lalu mempergunakannya “seluas mungkin dalam propaganda Jerman” di dalam negeri maupun luar negeri (M762). Pemikirannya didominasi oleh perburuan kata: secara pribadi—atau setengah pribadi—dalam diarinya dia meringkas propaganda miliknya atau musuh dengan klise verbal, bahkan saat dia tak berniat mempergunakan frase tersebut dalam output-nya. Dia mengakui pengalaman sebuah peristiwa kemungkinan besar lebih efektif daripada deskripsi verbal tentangnya, tapi dia juga mengakui kata-kata bisa berdiri di antara orang dan peristiwa, dan bahwa reaksi orang terhadap peristiwa bisa sangat dipengaruhi oleh kata-kata (M1385). Untuk meraih efek demikian, frasa dan slogan harus punya karakteristik berikut:

a) Mereka harus membangkitkan respon dikehendaki yang sudah dimiliki audiens. Jika kata-kata dapat mendatangkan respon demikian, maka tugas propaganda Goebbels cukup mempertautkan kata-kata itu dengan peristiwa yang akan memperoleh citarasa mereka. Ketika serbuan Inggris terhadap St. Nazaire pada Maret 1942 berhenti di tengah jalan, Goebbels memutuskan untuk mengklaim bahwa [serbuan] itu dilakukan demi menenteramkan Rusia yang menuntut sekutu mereka ikut dalam aksi militer. Serbuan itu digelari “Ofensif Maisky”, dari nama utusan Soviet di London. Kadang berita berbicara sendiri, dalam arti ia mendatangkan respon dikehendaki tanpa tambahan label verbal. Kemenangan militer tidak perlu ditafsirkan lagi untuk rakyat Jerman ketika Goebbels ingin mereka merasa puas. Namun, kebanyakan berita tidak menjelaskan dengan sendirinya: Goebbels harus membubuhkan respon yang dia kehendaki lewat pemakaian simbol verbal. Meski begitu, berita dan ulasan paling diatur dapat menghasilkan aksi tak dikehendaki dan tak diniatkan; bahkan pidato Hitler disalahtafsirkan (M4677).

b) Mereka harus mudah dipahami. “Itu harus memanfaatkan pelukisan hitam-putih, karena kalau tidak, itu tak bisa meyakinkan orang-orang,” kata Goebbels terkait film yang sedang dikupasnya (M271). Prinsip penyederhanaan ini dia terapkan pada semua media demi memudahkan kepahaman. Yang penting adalah masyarakat, bukan intelektual. Tidak semua “kebohongan” musuh dipatahkan, justru lebih baik membatasi serangan balasan pada satu “contoh pelajaran” (M2084). Selain itu, propaganda bisa dibantu oleh kemauan untuk paham. Seruan Cripps kepada pekerja Eropa di bawah kekuasaan Jerman agar melakukan aksi lamban[5], contohnya, dilewatkan [oleh Goebbels]: “sulit sekali mengajukan kontra-slogan untuk slogan semacam itu, sebab slogan ‘aksi lamban’ selalu jauh lebih efektif daripada ‘kerja cepat’” (107).

c) Mereka harus dimanfaatkan lagi dan lagi, tapi hanya dalam situasi pantas. Di sini Goebbels ingin mengeksploitasi kepahaman yang sudah terjadi: reaksi yang dipahami orang-orang terhadap simbol verbal ingin dia alihkan secara mudah dan efisien ke peristiwa baru. Dia mengkritik propaganda Inggris lantaran “slogannya berubah di setiap kesempatan dan karenanya tidak memiliki pukulan nyata” (M1812). Konteks reaksi orang-orang juga penting. “Saya melarang penggunaan kata ‘Fuehrer’ di pers Jerman ketika diterapkan pada quisling (kolaborator),” kata Goebbels, “saya menganggap tidak tepat istilah Fuehrer diterapkan pada orang selain Fuehrer sendiri. Ada istilah-istilah tertentu yang harus kita cadangkan untuk diri kita sendiri, di antaranya juga kata ‘Reich’” (66).

d) Mereka harus tahan bumerang. Goebbels jadi geram ketika dia memikirkan ungkapan “serbuan Baedeker, yang dengan bodohnya diciptakan oleh salah satu orang kita dalam sebuah konferensi pers luar negeri” (M2435): itu mengganggu upayanya untuk menyebut serbuan Inggris sebagai serangan serampangan terhadap “monumen budaya dan lembaga kesejahtaraan masyarakat” (M2301). “Ada kata-kata tertentu,” tambahnya “yang harus kita jauhi sebagaimana iblis menjauhi Air Suci; di antaranya, sebagai contoh, adalah kata ‘sabotase’ dan ‘pembunuhan’” (93).

15. Propaganda kepada front dalam negeri harus mencegah timbulnya harapan palsu yang dapat dihancurkan oleh peristiwa mendatang

Sudah jelas bagi Goebbels bahwa penantian kesuksesan Jerman dalam militer atau politik bisa berefek menguntungkan dari sudutpandangnya. Kepercayaan rakyat Jerman dan kegelisahan musuh bisa naik. Namun taktik demikian terlalu riskan: jika kesuksesan itu ternyata kegagalan, maka rakyat Jerman akan merasa ciut dan musuh gembira. Terlebih, kredibilitasnya sendiri akan rusak. Untuk alasan ini dia marah besar ketika, pasca penarikan tentara Jerman, musuh mengaitkan padanya “laporan prematur tentang kemenangan” di Salerno. Padahal, klaimnya, pengumuman itu datang dari para Jenderal Jerman (457).

Seringkali harapan palsu timbul dari rakyat Jerman sendiri, sejenis angan yang muncul spontan saat mereka merenungkan kemungkinan [serangan] ofensif oleh tentara Jerman, saat mereka menerima kabar sebuah kemenangan, atau saat mereka membayangkan musuh dapat dikalahkan oleh peristiwa politik. Karenanya Goebbels sering menerbitkan peringatan soal “ilusi palsu” dan dia mencegah kemenangan tertentu diumumkan terlalu nyaring. Di lain waktu strategi propaganda musuh dianggap mengikat tentara Jerman pada sasaran militer yang mereka kira tak bisa dicapai (118).

16. Propaganda kepada front dalam negeri harus menciptakan tingkat kegelisahan optimal

Bagi Goebbels, kegelisahan adalah pedang bermata ganda: terlalu banyak kegelisahan bisa menghasilkan kepanikan dan demoralisasi, terlalu sedikit bisa berujung pada kepuasan diri dan kemalasan. Oleh sebab itu dibuatlah upaya terus-menerus untuk menggapai keseimbangan di antara kedua ekstrim. Strategi ini dapat dikerucutkan menjadi dua prinsip (M6162).

a) Propaganda harus memperkuat kegelisahan terkait konsekuensi kekalahan. Sasaran perang musuh adalah materi utama yang dipakai untuk menjaga kegelisahan Jerman tetap tinggi. “Rakyat Jerman harus yakin—sebagaimana dibenarkan oleh fakta—bahwa perang ini menyasar hidup mereka dan potensi perkembangan negara mereka, dan mereka harus menjalaninya dengan segenap kekuatan” (147). Kalau-kalau kampanye “kekuatan lewat ketakutan” berjalan goyah, tak satupun peluang dilewatkan untuk menyerang syarat-syarat perdamaian musuh yang mungkin tampak lunak. Kampanye anti-Bolshevik berupaya untuk mendapatkan kerjasama semua negara netral dan dudukan, bukan sekadar mengeraskan perlawanan Jerman. Di satu sisi, Goebbels mencoba meyakinkan dirinya sendiri di dalam diari bahwa rakyat Jerman takkan terpedaya lagi—sebagaimana dalam Perang Dunia I, menurut pandangannya—oleh syarat-syarat perdamaian musuh: mereka “cukup hafal musuh mereka dan tahu apa yang akan terjadi jika mereka menyerah” (M6684). Di sisi lain, dia betul-betul merasa rakyat Jerman paling rawan oleh propaganda perdamaian. Dia khawatir, misalnya, propaganda Amerika akan diarahkan “bukan…terhadap rakyat Jerman tapi terhadap Nazisme” (147) dan “tentu saja kita bisa menyelamati diri sendiri karena musuh tidak punya Empat Belas Pasal Wilson” (47).

Adakalanya menjadi wajib untuk menaikkan tingkat kegelisahan rakyat Jerman terhadap peristiwa tertentu. Pada 24 Februari 1942, pasca petaka kampanye musim dingin pertama di Rusia, Goebbels “menerbitkan perintah kepada pers Jerman untuk menangani situasi di Timur secara menguntungkan, tapi jangan terlalu optimistis”. Dia tak ingin membangkitkan harapan palsu tapi, barangkali yang lebih penting, dia tak mau rakyat Jerman “berhenti khawatir tentang situasi di Timur” (99).

b) Propaganda harus mengurangi kegelisahan (selain terhadap konsekuensi kekalahan) yang terlalu tinggi dan yang tak bisa dikurangi oleh rakyat sendiri. Serbuan udara jelas membangkitkan kegelisahan Jerman terlalu tinggi, tapi itu adalah situasi yang tak bisa Goebbels kendalikan dengan propaganda. Dalam situasi lain di mana tingkat kegelisahannya mendemoralisasi, dia bisa lebih aktif. “Melihat keadaan secara realitis” saat situasi militer di Tunisia menjadi tak ada harapan, kekalahan Jerman dilukiskan sebagai “tidak sampai mengakibatkan rusaknya peluang kita untuk menang [nanti]” (M4542). Kontrasnya, dia berupaya memakai prinsip yang sama secara terbalik—disebut “strategi teror”—terhadap musuh-musuhnya. Selebaran dijatuhkan di kota-kota Inggris “berisi gambar kerusakan yang diperbuat Inggris di Luebeck dan Rostock, dan di bawahnya terdapat pengumuman pidato Fuehrer di Reichstag bahwa serbuan balasan sedang datang” (193).

17. Propaganda kepada front dalam negeri harus mengurangi dampak frustasi

Penting sekali mencegah rakyat Jerman merasa frustasi, contohnya, dengan mengebalkan mereka terhadap harapan palsu. Jika frustasi tidak bisa dihindari, Goebbels berusaha mengurangi dampaknya dengan menempuh dua prinsip:

a) Frustasi yang tak terelakkan harus diantisipasi. Pertimbangan Goebbels adalah bahwa frustasi akan kurang memfrustasikan jika unsur kejutan atau goncangan disingkirkan. Jadi kekalahan saat ini dipikul demi raihan masa depan. Rakyat Jerman berangsur-angsur diberi “suatu isyarat bahwa ujung sudah terlihat” seiring berakhirnya pertempuran di Tunisia (352). Mereka juga menerima petunjuk duluan kapanpun ada pertimbangan untuk mengurangi rangsum makanan; meski begitu, pengumuman aktual selalu membuat mereka cemas (M1484).

b) Frustasi yang tak terelakkan harus ditempatkan dalam perspektif. Goebbels menganggap salah satu fungsi utama dirinya adalah memberi rakyat Jerman apa yang dia sebut Kriegsüberblick, tinjauan perang secara umum. Kalau tidak, pikirnya, mereka akan kehilangan kepercayaan pada rezim dan padanya, dan mereka tidak akan mengerti kenapa mereka didorong untuk berkorban begitu banyak (M4975).

18. Propaganda harus memfasilitasi pemindahan permusuhan dengan menentukan sasaran kebencian

Goebbels punya beberapa gratifikasi positif untuk ditawarkan kepada rakyat Jerman selama masa sengsara yang dicakup oleh diari. Dia menyampaikan kekalahan musuh, secara cukup alami, kapanpun dia bisa dan kapanpun rakyat Jerman tidak percaya diri berlebihan. Cuma sekali dia memuji rakyat Jerman karena sudah bertahan terhadap musuh selama itu. Secara umum, teknik utama adalah memindahkan permusuhan rakyat Jerman kepada suatu outgroup[6] (M6220).

Objek-objek kebencian favorit adalah “Bolshevik” dan Yahudi. Goebbels terganggu oleh laporan yang menyatakan “ketakutan masyarakat luas Eropa terhadap Bolshevisme telah melemah” (M4572) atau bahwa “kelompok orang Jerman tertentu, khususnya intelektual, mengemukakan pemikiran bahwa Bolshevisme tidak seburuk yang digambarkan oleh Nazi” (335). Propaganda anti-Semit biasanya dipadukan dengan tindakan aktif terhadap Yahudi di Jerman atau negara-negara dudukan. Permusuhan Jerman juga diarahkan pada pilot Amerika dan Inggris, tapi secara umum AS dan Inggris Raya tidak membangkitkan murka Goebbels, minimal dalam diari (147).

Di negara-negara musuh, Goebbels punya kegemaran kuat untuk “menimbulkan keretakan”: dia berusaha membangkitkan kecurigaan, ketidakpercayaan, dan kebencian antara musuh-musuhnya dan antara kelompok-kelompok di dalam negara tertentu. Jadi dia berasumsi bahwa dasar permusuhan antara bangsa-bangsa atau di dalam sebuah bangsa sudah eksis untuk alasan historis atau sebagai akibat dari frustasi terhadap perang. Tugasnya adalah mengarahkan permusuhan lewat saluran pengacau (46).

19. Propaganda tidak bisa langsung mempengaruhi kontra-tendensi kuat; justru itu harus menawarkan suatu bentuk aksi atau pengalihan, atau dua-duanya

Dalam hampir semua pemikirannya tentang strategi dan tujuan propaganda, Goebbels membedakan antara apa yang disebut Haltung (sikap tubuh, tingkah laku, tindak-tanduk) dan Stimmung (perasaan, semangat, mood).[7] Pasca serbuan sengit terhadap sebuah kota Jerman, dia umumnya mengklaim bahwa Haltung rakyat sudah sempurna tapi Stimmung mereka jelek. Dia ingin punya kedua komponen moril ini sebaik mungkin. Stimmung dianggapnya jauh lebih labil: itu mudah dipengaruhi oleh propaganda dan peristiwa, itu dapat diperbaiki cukup dengan menawari mereka suatu bentuk hiburan dan relaksasi. Haltung harus dipertahankan berapapun harganya, sebab kalau tidak, rezim Nazi akan kehilangan dukungan dan rakyat akan siap menyerah. Rakyat Jerman, singkatnya, didorong menjaga penampilan luar dan bekerjasama dengan upaya perang, tanpa peduli perasaan dalam mereka. Seiring kian banyak kekalahan dan serbuan yang dialami, Goebbels jadi yakin bahwa Stimmung harus diabaikan hampir secara total (M6452).

Goebbels dengan jelas mengakui ketidakmampuan propagandanya sendiri dalam enam situasi. Dorongan dasar seks dan lapar tidak cukup terpengaruh oleh propaganda. Serbuan udara membawa permasalahan, mulai dari ketidaknyamanan hingga kematian yang tidak bisa disangkal. Propaganda tidak dapat menaikkan produksi industri secara signifikan. Impuls keagamaan banyak orang Jerman tidak bisa diubah, minimal selama perang. Oposisi terbuka dari individu Jerman dan dari orang-orang di negara dudukan mengharuskan tindakan tegas, bukan kata-kata pintar. Terakhir, situasi militer Jerman yang tak baik menjadi fakta tak terbantahkan. Ketika propaganda dan penyensoran tidak bisa efektif, Goebbels menganjurkan tindakan atau, dalam salah satu kedudukan resminya (contohnya sebagai Gauleiter Berlin), dia sendiri menghasilkan tindakan. Propaganda pengalihan dianggapnya [pilihan] terbaik kedua (M3508).

Pertimbangkan propagandanya berkenaan dengan kekalahan militer. Sejenak dia melukiskannya sebagai “evakuasi sukses” (461). Sejenak dia bahkan menyembunyikan implikasinya. Namun akhirnya mereka terlalu nyata, apalagi setelah serbuan udara sengit dimulai dan kesulitan berperang di dua front meningkat. Dia jadi putus asa, tapi tidak cukup bungkam. Pada akhir pertempuran di Tunisia, dia terpaksa menyimpulkan tema-tema propaganda berikut ternyata tidak mengesankan: “prajurit kita di sana sudah menulis kidung kepahlawanan yang akan terukir abadi pada halaman-halaman sejarah Jerman; mereka memperlambat perkembangan selama setengah tahun, dengan begitu memungkinkan kita melengkapi konstruksi Tembok Atlantik dan mempersiapkan diri di seluruh Eropa sehingga invasi adalah mustahil” (360). Dia coba mengalihkan perhatian rakyat Jerman lewat kampanye anti-Bolshevik lain, tapi ini juga terlalu tidak memadai. Yang betul-betul dibutuhkan rakyat Jerman adalah “beberapa kemenangan di Timur untuk diumumkan” (M4433). Dan lagi, kekalahan Jerman di Rusia merundung Goebbels. Kapanpun memungkinkan, dia coba mengimbangi berita kekalahan di satu seksi dengan laporan kemenangan di seksi lain, tapi pada 1943 dia tak punya berita baik untuk dipakai sebagai selingan. Stimmung hancur, dan bahkan Haltung membuatnya cemas: “saat ini kita tak bisa mengubah banyak lewat propaganda; kita harus sekali lagi memperoleh kemenangan besar di suatu tempat” (M3253). Untunglah, kemenangan tersebut dan kemenangan puncak tak pernah datang.

Catatan kaki:
  1. Louis P. Lochner (editor), The Goebbels Diaries, New York Doubleday & Company, 1948.
  2. Penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada Tn. Philip T. McLean dari Library on War, Peace, and Revolution atas persiapan pembuatan mikrofilm manuskrip; kepada Yale Attitude Change Project atas pembayaran biaya mikrofilm; dan kepada Professor Carl. F. Schreiber dari Universitas Yale atas bantuan dalam menerjemahkan beberapa kata dan frasa sulit.
  3. Hans Speier, Review of Lochner, op. cit., Public Opinion Quarterly, Musim Gugur 1948, hal. 500-505.
  4. United States Strategic Bombing Survey, The Effects of Bombing on German Morale. Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office, 1947. Vol. I, hal. 42.
  5. Aksi lamban atau slowdown atau go-slow adalah aksi industrial di mana karyawan melakukan tugas mereka tapi berusaha mengurangi produktivitas atau efisiensi dalam pelaksanaan tugas. Aksi ini bisa dipakai sebagai pembuka atau alternatif mogok kerja, karena dianggap kurang mengganggu serta kurang beresiko dan kurang berbiaya bagi pekerja dan serikat—penj.
  6. Outgroup adalah orang-orang yang bukan bagian dari kelompok tertentu—penj.
  7. Lochner mengabaikan pembedaan ini dan secara umum menerjemahkan keduanya sebagai “moril”, istilah yang juga Goebbels gunakan sesekali secara sama-sama ambigu.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s