Oleh: Michael Jacobson
30 Juli 2015
Sumber: War on the Rocks

Dalam kesaksian di depan Kongres, Jend. James Dunford, kemungkinan menjadi pimpinan Kepala Staf Gabungan berikutnya, dan Jend. Mark Milley, calon kepala staf AD, mengidentifikasi Rusia sebagai ancaman militer terbesar bagi AS dan sekutu-sekutunya. Kemunculan kembali Rusia sebagai ancaman militer adalah alasan bagi militer AS untuk mengevaluasi ulang dan memfokuskan ulang konsep operasinya—yang pada gilirannya mempengaruhi doktrin, peralatan, dan puncaknya perencanaan.

Konsep Operasi AD adalah visi dinas buatan sendiri tentang bagaimana AD berencana bertempur dan memenangkan peperangan di masa depan. Versi terbaru, “Menang di Dunia yang Kompleks”, dilansir pada Oktober 2014 dan mendapat pujian di dalam AD karena itu dipahami luas sebagai pemfokusan ulang AD pada misi intinya: bertempur dan menang perang, sambil terus memberi presiden opsi untuk kemungkinan-kemungkinan lain. Namun, pujian ini datang saat AD telah kehilangan banyak keefektifan dan banyak keunggulan teknologinya dibanding Rusia dan China. Keahlian kombinasi tempur AD, kemampuan menyelaraskan semua aspek kekuatan tempur taktis menjadi gelombang tak terbendung, berhenti tumbuh semasa fokus kita terpusat pada operasi-operasi kontra-pemberontakan berketerusan di Asia Tenggara lebih dari satu dekade. Kemerosotan ini bisa dilihat dalam peringkat kinerja buruk brigade-brigade manuver di berbagai pusat pelatihan tempur sejak pengenalan ulang “operasi menentukan”—yang AD definisikan sebagai operasi pelaksanaan misi tertentu (kontras dengan operasi “pembentukan” dan “ penyokongan”)—ke dalam lingkungan pelatihan pada tahun-tahun belakangan.

Meski Konsep Operasi AD terbaru berusaha menerangkan kekurangan ini, ia gagal memfokuskan upaya-upaya AD ke dalam pendekatan terpadu dan koheren. Pada hakikatnya, konsep ini mengharuskan AD menjadi segala sesuatu, berada dalam semua misi, di bawah semua kondisi, di semua waktu, di semua tempat, dengan sumberdaya terbatas. Alhasil, upaya-upaya AD tidak terhubung dan tidak terkoordinir, dan takkan memungkinkannya membangun kembali kesetarafan operasional terhadap lawannya yang paling berbahaya—Rusia di Eropa—selama minimal 20 tahun ke depan. AD harus sesegera mungkin menulis ulang dokumen penting ini dan memfokuskannya pada ancaman Rusia demi mencapai bukan saja kesetarafan tapi juga supremasi.

Yang AD perlukan dalam konsep operasinya untuk merencanakan keberhasilan di masa mendatang adalah mendefinisikan dan memperkenalkan unsur-unsur abstrak yang pantas, dari segi mutu keefektifan; merencanakan dan mengadakan hal-hal abstrak yang tepat, dari segi sistem dan struktur; mengembangkan dan melembagakan, prinsip-prinsip dasar rasional di dalam doktrin; dan menyediakan substrat dasar untuk dibangun di atasnya kekuatan berkenaan dengan ancaman yang dapat dihitung.

Konsep Operasi AD mendefinisikan masalah—yang coba diselesaikannya—dengan cara ini: “Bagaimana AD melakukan operasi gabungan dengan segera, dalam skala memadai, dan untuk durasi yang cukup guna mencegah konflik, membentuk lingkungan keamanan, dan memenangkan perang?” Alhasil, konsep operasi ini menempatkan signifikansi setara pada penyiapan pasukan masa depan untuk semua operasi, musuh, faktor dan lingkungan potensial tanpa keuntungan memanfaatkan semua sumberdaya negara secara rasional, proporsional, dan sistematis. Lebih jauh, beberapa asumsi eksplisit dan implisit turut membelokkan fokus, seperti ketergantungan berketerusan pada “pasukan profesional serba sukarelawan”, dan “penyesuaian dengan pembatasan fiskal anggaran”. Mungkin yang paling mengganggu adalah tak adanya pembedaan antara ancaman eksistensial dan ancaman terhadap kepentingan nasional—dalam hal aktor ataupun faktor di lingkungan operasi.

Operasi Badai Gurun tahun 1991 mendemonstrasikan seberapa jauh Angkatan Darat, yang disiapkan di bawah konsep operasi logis, bisa efektif. Di bawah konsep AirLand Battle—dikembangkan sebagai mekanisme koordinasi pasukan darat dan kekuatan udara untuk kemenangan di medan-medan perang potensial Eropa era Perang Dingin—operasi ini menghimpun semua elemen yang tepat untuk menang. AD, bersama angkatan-angkatan lain, telah mengandung hal-hal abstrak tepat berupa kepemimpinan, keberanian, ketahanan, dan kemauan. Ia mempunyai sistem konkret tepat berupa helikopter Blackhawk dan Apache, tank M1 Abrams, kendaraan tempur Bradley, sistem pertahanan udara dan rudal Patriot, dan Multiple Launch Rocket System. AD berlatih dan berencana berdasarkan empat prinsip AirLand Battle: inisiatif, kedalaman, ketangkasan, dan penyelarasan. Lem yang mengikat elemen-elemen ini adalah musuh, alasan semua ini disiapkan: gabungan tentara Uni Soviet dan negara-negara Pakta Warsawa. Pendek kata, AD diperlengkapi, dilatih, dan dimotivasi untuk sukses menundukkan operasi paling menantang terhadap musuh paling berbahaya, dan karenanya siap untuk melaksanakan misi lain apapun yang ditugaskan.

Kenyataannya, perbedaan kunci antara AirLand Battle dan Konsep Operasi AD baru adalah fokus pada keterbatasan internal dalam Konsep Operasi AD dan fokus pada musuh eksternal dalam AirLand Battle. Konsep Operasi AD harusnya berkonsentrasi pada operasi militer paling menantang terhadap musuh paling cakap dan berbahaya, dan dengan demikian menyusun sistem-sistem konkret tepat dan mengangkat hal-hal abstrak pantas—didirikan di atas prinsip abadi. National Military Strategy, dan peristiwa-peristiwa mutakhir dalam hubungan internasional, menyisakan sedikit keraguan perihal musuh potensial paling berbahaya dan operasi militer paling menantang: Rusia. Perilaku agresif Rusia terhadap kedaulatan para tetangganya menunjukkan kebutuhan berkelanjutan akan pertahanan militer melawan agresi Rusia terhadap anggota NATO.

Hal-hal konkret tepat adalah sistem masa kini dan masa depan yang memberi keunggulan teknologi bagi pasukan kita atas musuh paling cakap dalam rangka melaksanakan misi paling menantang. Kualitas-kualitas abstrak yang menciptakan satuan tempur efektif sudah dikenal baik oleh kita dan inheren dalam penduduk Amerika, kecuali satu: kemauan. Kemauan seringkali terikat pada pendapat khalayak. AD sudah mencoba menutupi potensi kurangnya kemauan dengan mengikatkan keefektifannya pada pasukan profesional serba sukarelawan. Masalah dari pendekatan ini adalah terkekangnya kemampuan AD untuk merencanakan pencetakan pasukan secara pesat dan juga skalabilitas seraya memelihara kekayaan negara. AD profesional besar sangat mahal dan tidak berkelanjutan—karenanya, fokus terkini pada sumberdaya internal lebih menantang ketimbang musuh eksternal.

Satu contoh pantas untuk menggambarkan manfaat fokus secara eksternal adalah Prussia menjelang perang Prancis-Prussia pada 1870. Selama masa ini Prussia harus menyeimbangkan sumberdaya terbatas, banyak operasi, pergeseran lingkungan operasi, dan banyak ancaman potensial. Prussia fokus pada Prancis, yang memiliki doktrin militer mapan, tentara profesional relatif besar, senjata api sangat unggul, dan dukungan dari penduduk. Terlepas dari ini, tentara Prussia mengalahkan tentara Prancis di pedesaan Prancis sendiri. Keunggulan Prussia terdapat pada prinsip-prinsip baru terbentuk yang terkait dengan sistem senjata baru, yang kesemuanya didirikan di atas kualitas abstrak. Prinsip-prinsip Prussia tersebut akrab di telinga kita: inisiatif terkandung pada “auftragstaktik” (komando misi); kedalaman terkandung dalam pendekatan baru artileri tersusun-baris (massed artillery), yang diorganisir di tingkat divisi guna menyediakan fleksibilitas dan susunan-baris dalam rangka mengusahakan penerobosan, mengacaukan garis pasokan, dan melemahkan pertahanan di kedalaman; penyelarasan terkandung dalam mobilisasi cermat, pergerakan, dan perencanaan penyelubungan; dan ketangkasan terkandung dalam pengaturan ulang dan pengadaptasian kavaleri untuk penghimpunan informasi dan pengintaian, serta penyebaran infanteri ke dalam formasi-formasi seukuran kompi. Unsur-unsur abstrak Prussia juga akrab di telinga kita: nasionalisme, keberanian, pengorbanan, dan kepemimpinan. Hasilnya adalah tentara terkendala sumberdaya, dengan syarat operasional bersaing, yang mampu mengalahkan musuh sangat berbahaya.

Konsep Operasi AD memfokuskan ulang AD pada persiapan terhadap, penangkisan, dan pengalahan musuh-musuh berbahaya di lingkungan operasi global masa depan, tapi ia meleset dari sasaran dengan, cerobohnya, fokus pada tantangan di dalam ketimbang di luar. Konsep ini seharusnya mengidentifikasi seperti apa operasi paling menantang di masa depan dan siapa musuh potensialnya. Ini akan memungkinkan AD mengangkat kualitas abstrak keefektifan serta prinsip-prinsip kunci kita dalam rangka memelihara dan memperoleh hal-hal konkret tepat dari segi peralatan dan manusia, guna bersiap-siap menghadapi situasi terburuk sambil menjadi pengurus sumberdaya nasional yang bertanggungjawab.

Tentang penulis:

Michael Jacobson adalah analis kemampuan artileri lapangan Departemen Polisi Sipil AD dan Letnan Kolonel di Pasukan Cadangan AD AS. Mike menerima gelar Master of Arts dalam Hubungan Internasional dari Old Dominion University. Pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini merupakan pendapat penulis dan tidak mencerminkan sikap Pemerintah AS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s