Oleh: Glenn Greenwald
25 Februari 2014
Sumber: The Intercept

Salah satu dari banyak kisah urgen yang masih harus diceritakan dari arsip Snowden adalah bagaimana agensi-agensi intelijen barat berupaya memanipulasi dan mengendalikan diskursus daring dengan taktik ekstrim berupa pengelabuan dan penghancuran reputasi. Sekarang waktunya menceritakan secuil kisah itu, lengkap dengan dokumen relevan.

Selama beberapa pekan terakhir, saya bekerjasama dengan NBC News untuk mempublikasikan seri artikel tentang taktik “trik kotor” yang dipakai oleh unit (dulunya) rahasia milik GCHQ, JTRIG (Joint Threat Research Intelligence Group). Seri ini berlandaskan empat dokumen GCHQ terklasifikasi yang dipresentasikan kepada NSA dan tiga mitra lain dalam aliansi “Lima Mata” berbahasa Inggris. Hari ini, kami di The Intercept mempublikasikan satu dokumen JTRIG baru, secara utuh, berjudul The Art of Deception: Training for Online Covert Operations.

Dengan mempublikasikan kisah-kisah ini satu demi satu, liputan NBC kami menyoroti beberapa penyingkapan penting terpisah: pemantauan YouTube dan Blogger, penyasaran Anonymous dengan serangan DDoS yang sama yang mereka tuduhkan kepada para “hacktivis”, penggunaan “perangkap madu” (memikat orang ke dalam situasi berbahaya dengan [umpan] seks) dan virus-virus destruktif. Tapi di sini saya ingin fokus dan rinci pada poin pelingkup yang disingkap oleh semua dokumen tersebut: yakni bahwa agensi-agensi ini berupaya mengendalikan, menyusupi, memanipulasi, dan membengkokkan diskursus daring, dan dalam berbuat demikian, membahayakan integritas internet itu sendiri.

Di antara tujuan inti JTRIG yang teridentifikasi adalah dua taktik: (1) menyuntikkan segala macam materi palsu ke internet demi menghancurkan reputasi targetnya; dan (2) memakai ilmu sosial dan teknik lain untuk memanipulasi diskursus dan aktivisme daring guna menghasilkan akibat yang dikehendaki. Untuk paham seberapa ekstrimis program-program ini, coba pertimbangkan taktik yang mereka sombongkan dalam mencapai tujuan tersebut: “operasi bendera palsu” (memposting materi di internet dan mengatributkannya pada orang lain), blogpost korban gadungan (berpura-pura sebagai korban tokoh yang reputasinya hendak mereka hancurkan), dan memposting “informasi negatif” di berbagai forum. Berikut adalah daftar taktik dari dokumen GCHQ terbaru yang kami publikasikan hari ini:

Taktik lain, yang ditujukan pada individu, terdaftar di sini dengan judul “Mendiskreditkan Target”:

Lalu ada taktik yang dipakai untuk menghancurkan perusahaan incaran agensi:

GCHQ mendeskripsikan tujuan JTRIG dalam bahasa yang sangat jelas: “menggunakan teknik-teknik daring untuk membuat sesuatu terjadi di dunia nyata atau siber,” termasuk “operasi informasi (pengaruh atau pengacauan)”.

Gawatnya, “target-target” pengelabuan dan penghancuran reputasi ini jauh melampaui daftar nama dalam kegiatan mata-mata normal: negara-negara musuh beserta pemimpin, badan militer, dan dinas intelijen mereka. Bahkan, pembahasan mayoritas teknik ini terdapat dalam konteks menggunakannya, sebagai ganti “penegakan hukum tradisional”, terhadap orang-orang yang dicurigai (tapi tidak dituntut atau dipidana) melakukan kejahatan biasa atau, lebih luas lagi, “hacktivisme”, artinya mereka yang memakai kegiatan unjuk rasa daring untuk tujuan politik.

Halaman judul salah satu dokumen ini mencerminkan kesadaran agensi itu sendiri bahwa mereka sedang “mendorong batas” dengan menggunakan teknik-teknik “ofensif siber” terhadap orang-orang yang tak ada hubungannya dengan terorisme atau ancaman keamanan nasional, dan bahkan pada dasarnya melibatkan aparat penegak hukum yang menyelidiki kejahatan biasa:

Tak peduli pandangan Anda terhadap Anonymous, “hacktivis”, atau penjahat biasa, tidaklah sulit mengakui betapa bahayanya ada agensi rahasia pemerintah yang mampu menyasar individu manapun yang mereka mau—yang belum pernah dituntut dengan, apalagi dipidana atas, kejahatan apapun—dengan jenis-jenis taktik penghancuran reputasi dan pengacauan di dunia maya berbasis pengelabuan ini. Terdapat argumen kuat, sebagaimana Jay Leiderman tunjukkan dalam The Guardian dalam konteks penuntutan hacktivis Paypal 14, bahwa taktik “denial of service” yang dipakai olah para hacktivis mengakibatkan (paling banter) kerusakan sepele (jauh di bawah taktik perang siber yang disukai AS dan Inggris) dan jauh lebih mirip dengan jenis unjuk rasa politik yang dilindungi Amandemen Pertama.

Poin luasnya adalah bahwa, jauh melampaui para hacktivis, agensi-agensi pengintaian ini telah melimpahi diri mereka sendiri wewenang untuk sengaja merusak reputasi orang dan mengacaukan kegiatan politik daringnya meskipun tidak dikenai tuntutan pidana, dan meskipun tindak-tanduknya tidak berkaitan dengan terorisme atau bahkan ancaman keamanan nasional. Seperti kata pakar Anonymous, Gabriella Coleman dari Universitas McGill, kepada saya, “penyasaran Anonymous dan para hacktivis sama dengan penyasaran warga negara atas ekspresi keyakinan politik mereka, mengakibatkan lumpuhnya pembangkangan sah”. Menunjuk pada studi yang dia publikasikan, Profesor Coleman dengan berapi-api menentang pernyataan bahwa “terdapat suatu terorisme/kekerasan dalam tindak-tanduk mereka”.

Rencana pemerintah untuk memantau dan mempengaruhi komunikasi internet, dan menyusupi komunitas daring dalam rangka mengadu domba dan menebar informasi palsu, sudah lama menjadi sumber spekulasi. Profesor Hukum Harvard Cass Sunstein, penasehat dekat Obama dan mantan kepala Kantor Informasi dan Urusan Regulasi Gedung Putih, menulis sebuah makalah kontroversial pada 2008 yang mengusulkan agar pemerintah AS memakai tim agen terselubung dan advokat semu-“independen” untuk “secara kognitif menyusupi” grup-grup daring dan situs, serta grup aktivis lain.

Sunstein juga mengusulkan pengiriman agen terselubung ke “ruang-ruang chat, jejaring sosial daring, atau bahkan grup ruang nyata” yang dianggapnya menyebarkan “teori konspirasi” palsu dan merusak tentang pemerintah. Ironisnya, nama Sunstein baru-baru ini disebut oleh Obama untuk menjadi anggota panel peninjau NSA yang dibentuk oleh Gedung Putih, panel yang—seraya membantah klaim-klaim penting NSA—kemudian mengusulkan banyak reformasi kosmetik pada wewenang agensi tersebut (sebagian besarnya diabaikan oleh Presiden yang mengangkat mereka).

Tapi dokumen-dokumen GCHQ ini bukan yang pertama membuktikan bahwa sebuah pemerintahan besar barat menggunakan beberapa teknik paling kontroversial untuk menebar pengelabuan di dunia maya dan merusak reputasi target. Di bawah taktik yang mereka pakai, negara sengaja menyebar kebohongan di internet tentang individu manapun yang diincarnya, termasuk penggunaan apa yang GCHQ sebut “operasi bendera palsu” dan surel kepada keluarga dan teman orang-orang. Siapa yang mempercayakan pada pemerintah untuk menjalankan wewenang ini, apalagi secara diam-diam, nyaris tanpa pengawasan, dan di luar kerangka hukum dikenal?

Lalu ada penggunaan psikologi dan ilmu sosial lain untuk tak hanya memahami, tapi juga membentuk dan mengendalikan, perkembangan aktivisme dan diskursus daring. Dokumen terbitan hari ini menggembar-gemborkan karya GCHQ “Human Science Operations Cell”, yang diabdikan untuk “intelijen manusia daring” dan “pengaruh dan pengacauan strategis”.

Di bawah judul “Aksi Terselubung Daring”, dokumen ini merinci bermacam-macam saran untuk menjalankan “operasi pengaruh dan informasi” serta “serangan jaringan komputer dan pengacauan”, sambil membedah bagaimana manusia dapat dimanipulasi dengan memanfaatkan “pemimpin”, “kepercayaan”, “ketaatan”, dan “kerelaan”.

Dokumen-dokumen ini menyusun teori bagaimana manusia berinteraksi dengan satu sama lain, terutama di dunia maya, dan lalu berusaha mengidentifikasi cara-cara mempengaruhi hasil—atau “memainkan”-nya:

Kami menyampaikan banyak pertanyaan kepada GCHQ, mencakup: (1) Apakah GCHQ memang menjalankan “operasi bendera palsu” di mana materi diposting di Internet dan secara palsu diatributkan pada orang lain?; (2) Apakah GCHQ berupaya mempengaruhi atau memanipulasi diskursus politik di dunia maya?; dan (3) Apakah mandat GCHQ meliputi penyasaran penjahat biasa (semisal operator ruang ketel), atau hanya ancaman luar negeri?

Seperti biasa, mereka mengabaikan pertanyaan-pertanyaan ini dan justru memilih mengirim klise samar dan non-responsif: “Sudah lama menjadi kebijakan kami untuk tidak mengomentari urusan intelijen. Lagipula, semua pekerjaan GCHQ dilaksanakan sesuai kerangka hukum dan kebijakan ketat yang memastikan kegiatan kami absah, perlu, dan sepadan, dan bahwa ada pengawasan keras dari Menteri Luar Negeri, Interception and Intelligence Services Commissioners, dan Parliamentary Intelligence and Security Committee. Semua proses operasional kami mendukung keras posisi ini.”

Penolakan agensi-agensi ini untuk “mengomentari urusan intelijen”—artinya: membahas apapun yang mereka kerjakan—menjadi alasan kenapa whistleblowing begitu urgen, kenapa jurnalisme yang mendukungnya terang-terangan adalah demi kepentingan khalayak, dan kenapa serangan menggila oleh para agensi ini begitu mudah dimaklumi. Klaim bahwa badan-badan pemerintah menyusupi komunitas daring dan melancarkan “operasi bendera palsu” untuk mendiskreditkan target seringkali dicap sebagai teori konspirasi, tapi dokumen-dokumen ini tak menyisakan keraguan bahwa mereka persis melakukan itu.

Apapun fakta lainnya, pemerintah tak boleh menjalankan taktik-taktik ini: apa justifikasi badan pemerintah menyasar orang-orang—yang belum pernah dituntut dengan kejahatan apapun—untuk penghancuran reputasi, menyusupi komunitas politik daring, dan mengembangkan teknik untuk manipulasi diskursus daring? Tapi mengizinkan perbuatan itu tanpa sepengetahuan khalayak atau akuntabilitas adalah yang paling tak bisa dijustifikasi.

Dokumen yang dirujuk dalam artikel ini:
The Art of Deception: Training for a New Generation of Online Covert Operations

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s